Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma telah menyelenggarakan kegiatan Memorandum of Understanding (MoU) dan Focus Group Discussion (FGD) bersama LAMSPAK, PERHUMAS, ASPIKOM, dan ISKI. Kegiatan ini mengangkat tema “Revitalisasi Kurikulum Ilmu Komunikasi Berbasis Outcome-Based Education (OBE) di Era Artificial Intelligence, Sustainability, dan Digital Society.”
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 4 Juni 2026, pukul 09.00–16.00 WIB di Auditorium Kampus F8 Universitas Gunadarma, Depok, menjadi ruang pertemuan strategis antara perguruan tinggi, lembaga akreditasi, asosiasi profesi, dan organisasi keilmuan di bidang komunikasi. Melalui kegiatan ini, FIKOM UG berupaya memperkuat kerja sama kelembagaan sekaligus membuka ruang dialog akademik terkait arah pengembangan kurikulum ilmu komunikasi yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman.
Pelaksanaan MoU menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antarlembaga. Kerja sama yang dibangun tidak hanya diarahkan pada penguatan hubungan institusional, tetapi juga pada pengembangan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan jejaring akademik dan profesional di bidang ilmu komunikasi. Kolaborasi dengan LAMSPAK, PERHUMAS, ASPIKOM, dan ISKI diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem pendidikan komunikasi di Indonesia.
Selain penandatanganan kerja sama, kegiatan ini juga dilanjutkan dengan Focus Group Discussion yang membahas revitalisasi kurikulum berbasis Outcome-Based Education. OBE menjadi pendekatan penting dalam pendidikan tinggi karena menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai dasar dalam merancang proses pendidikan. Melalui pendekatan ini, kurikulum tidak hanya disusun berdasarkan materi ajar, tetapi juga berdasarkan kompetensi, keterampilan, sikap, dan kemampuan nyata yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran.
Revitalisasi kurikulum ilmu komunikasi menjadi semakin penting di tengah perkembangan Artificial Intelligence, isu keberlanjutan, dan transformasi masyarakat digital. Perubahan tersebut berdampak langsung pada cara manusia berkomunikasi, memproduksi informasi, menggunakan media, membangun relasi sosial, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan publik. Oleh karena itu, pendidikan ilmu komunikasi perlu terus menyesuaikan diri agar lulusan yang dihasilkan mampu memahami dinamika media, teknologi, budaya digital, serta kebutuhan industri dan masyarakat.
Dalam era Artificial Intelligence, mahasiswa ilmu komunikasi tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dampak sosial, etika, dan tanggung jawab komunikasi di ruang digital. Kehadiran AI menghadirkan peluang baru dalam produksi konten, analisis data, strategi komunikasi, media digital, dan riset komunikasi. Namun, perkembangan ini juga menuntut kesiapan akademik dalam membangun literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman etis terhadap penggunaan teknologi.
Isu sustainability atau keberlanjutan juga menjadi perhatian penting dalam pengembangan kurikulum ilmu komunikasi. Komunikasi memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran publik, mendorong perubahan perilaku, memperkuat tanggung jawab sosial, serta mengomunikasikan isu-isu lingkungan, sosial, dan tata kelola secara lebih efektif. Dengan demikian, kurikulum ilmu komunikasi perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana komunikasi dapat berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, perkembangan digital society menuntut lulusan ilmu komunikasi memiliki kemampuan adaptif dalam menghadapi perubahan pola interaksi masyarakat. Masyarakat digital ditandai oleh cepatnya arus informasi, meningkatnya penggunaan media sosial, berkembangnya budaya partisipatif, serta munculnya tantangan seperti disinformasi, polarisasi opini, dan etika komunikasi digital. Kondisi ini menempatkan pendidikan komunikasi pada posisi penting dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab etis.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. M. R. Khairul Muluk, M.Si., Ketua Dewan Eksekutif LAMSPAK, sebagai keynote speaker. Kehadiran beliau menjadi bagian penting dalam memperkaya perspektif mengenai arah pengembangan pendidikan tinggi ilmu komunikasi, terutama dalam kaitannya dengan mutu, capaian pembelajaran, dan kebutuhan penyesuaian kurikulum di tengah perubahan lingkungan akademik dan profesional. FGD ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yaitu Dr. Emilia Bassar, M.Si., IAPR; Prof. Dr. Atwar Bajari, M.Si.; serta Prof. Dr. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm. Kehadiran para narasumber tersebut diharapkan dapat memberikan pandangan komprehensif mengenai pengembangan kurikulum ilmu komunikasi dari berbagai sudut, mulai dari kebutuhan akademik, praktik profesional, perkembangan industri komunikasi, hingga tantangan global yang dihadapi pendidikan tinggi. Melalui forum diskusi ini, FIKOM UG berupaya menggali masukan, gagasan, dan rekomendasi yang dapat digunakan dalam memperkuat kurikulum ilmu komunikasi. Diskusi mengenai kurikulum menjadi penting karena dunia pendidikan tidak dapat berdiri terpisah dari perubahan sosial dan teknologi. Kurikulum perlu terus dievaluasi agar tetap relevan, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan mahasiswa, dunia kerja, masyarakat, serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Kegiatan MoU dan FGD ini juga menjadi wujud komitmen FIKOM UG dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Dengan memperkuat kerja sama bersama lembaga dan asosiasi di bidang komunikasi, FIKOM UG berharap dapat membangun ruang kolaborasi yang lebih luas dalam pengembangan akademik, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa, penguatan riset, serta pengembangan program-program yang relevan dengan kebutuhan masa depan. FIKOM UG memandang bahwa pendidikan ilmu komunikasi harus mampu menghasilkan lulusan yang komunikatif, kritis, kreatif, adaptif, dan bertanggung jawab. Lulusan ilmu komunikasi tidak hanya diharapkan mampu bekerja di industri media dan komunikasi, tetapi juga mampu berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih informatif, inklusif, dan beretika di tengah perubahan digital.
Melalui kegiatan ini, FIKOM UG menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan ekosistem pendidikan ilmu komunikasi yang unggul, berdaya saing, dan relevan dengan tantangan era Artificial Intelligence, Sustainability, dan Digital Society. Kolaborasi akademik dan kelembagaan yang terbangun diharapkan dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam memperkuat mutu pendidikan, memperluas jejaring, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru bagi pengembangan ilmu komunikasi di Indonesia.