MEMAHAMI POST HOLIDAY BLUES: SAAT LIBURAN BERAKHIR DAN EMOSI PERLU DIKOMUNIKASIKAN
Halo, Fikomers!
Pernah merasa kosong, galau, kurang bersemangat, atau sulit kembali fokus setelah liburan panjang? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami Post Holiday Blues (PHB). Fenomena ini kerap muncul setelah momen liburan berakhir dan kita harus kembali menghadapi rutinitas sehari-hari.
PHB sering kali disalahartikan sebagai sekadar kelelahan fisik. Padahal, dari sudut pandang ilmu komunikasi, kondisi ini jauh lebih kompleks dan berkaitan erat dengan makna, ekspektasi, serta cara kita memaknai pengalaman liburan itu sendiri.

Liburan sebagai Simbol dan Harapan
Dalam perspektif komunikasi, liburan bukan hanya waktu istirahat, tetapi juga simbol kebebasan, kebahagiaan, dan pelarian dari tekanan rutinitas. Media sosial, cerita orang lain, hingga narasi populer tentang “liburan ideal” sering membentuk ekspektasi yang tinggi.
Ketika liburan berakhir dan realitas kembali hadir, muncul jarak antara harapan (ekspektasi) dan kenyataan (rutinitas). Jarak inilah yang kerap memicu stres emosional, rasa hampa, bahkan kehilangan motivasi.
PHB sebagai Proses Komunikasi Emosional
Post Holiday Blues dapat dipahami sebagai bentuk disonansi makna, ketika perasaan bahagia yang dibangun selama liburan tidak lagi selaras dengan situasi setelahnya. Dalam kondisi ini, individu membutuhkan ruang untuk menafsirkan ulang pengalaman, emosi, dan peran sosialnya.
Di sinilah komunikasi interpersonal memegang peranan penting. Obrolan dengan teman, keluarga, atau rekan kerja menjadi media untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, serta menyusun kembali ekspektasi yang lebih realistis.


Obrolan sebagai Jembatan Pemulihan
Komunikasi yang terbuka dan empatik dapat menjadi jembatan untuk memulihkan keseimbangan emosional. Dengan berbicara, kita tidak hanya “mengeluarkan” perasaan, tetapi juga membangun makna baru: bahwa kembali ke rutinitas bukan akhir dari kebahagiaan, melainkan fase lain dari perjalanan hidup.
Dalam konteks ini, kata-kata yang tepat, pendengar yang memahami, dan ruang aman untuk bercerita bisa sangat membantu proses adaptasi pascaliburan.
Galau Itu Normal, yang Penting Dipahami
Merasa galau setelah liburan adalah hal yang wajar dan manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana kita memahami fenomena ini, mengelola emosi secara sehat, dan menggunakan komunikasi sebagai alat untuk bangkit kembali.
Dengan kesadaran dan komunikasi yang tepat, Post Holiday Blues bukan penghalang, melainkan transisi emosional menuju keseimbangan baru.
Yuk, pahami fenomenanya lebih dalam dan jadikan komunikasi sebagai teman terbaikmu dalam menghadapi perubahan suasana setelah liburan.
