PENERAPAN KECERDASAN EMOSIONAL DALAM SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA authored by Nuke Farida

Pendidikan karakter bukan hal baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Beberapa pendidik Indonesia modern yang kita kenal seperti Soekarno telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa yang bertujuan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter. Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesaia, antara lain meningkatnya pergaulan bebas dan prostitusi di kalangan siswa SMP, SMU, bahkan mahasiswa, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, yaitu mulai dari gang motor sampai pembegalan. Kasus lain krisis moral adalah kejahatan terhadap teman secara psikis atau fisik (bullying), pencurian remaja, kebiasaan menyontek atau menyebarkan soal jawaban UN, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi dan perusakan milik orang lain telah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum diatasi secara tuntas.

Menurut pendapat saya, implementasi kurikulum yang terjadi pada sistem pendidikan Indonesia adalah masih berorientasi pada hasil belajar bukan proses belajar siswa. Hal ini terbukti dengan diberlakukannya sistem nilai ujian akhir nasional sebagai tolak ukur inteligensia. Jika siswa memperoleh nilai UN yang bagus yaitu rata-rata di atas angka 8, maka siswa tersebut dapat diterima sekolah negeri. Sebaliknya, jika ada siswa yang memperoleh nilai rata-rata dibawah angka 7, kemungkinan masuk sekolah negeri akan kecil. Pemerintah lupa bahwa emosi juga memiliki efek kecerdasan emosioanal yang sangat penting pada keputusan dan perilaku kita. Penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan kecerdasan emosional mempengaruhi tingkat kecerdasan emotional anak/siswa (Ulutas & Omeroglu, 2007).

Mayer dan Salovey mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “emosi untuk memahami, menggunakan emosi untuk mendukung ide-ide, memahami emosi dan informasi emosional, menyesuaikan emosi untuk perkembangan emosional dan mental” (Mayer & Salovey, 1997, hal. 4). Kecerdasan emosional mulai berkembang saat manusia lahir. Ikatan emosional pertama anak muncul ketika ibu menyediakannya kebutuhan tersebut. Meningkatnya kualitas interaksi anak dengan orang lain dalam lingkungan yang terdekatnya seperti orang tua, saudara, teman dan guru, dapat mengembangkan atau melemahkan kecerdasan emosionalnya (Houtmeyers, 2004; Shapiro, 2000; Sullivan, 1999). Dalam sebuah studi tentang anak-anak prasekolah, Smith dan Walden (1999) menemukan bahwa anak-anak yang mengalami sikap negatif menunjukkan emosi negatif dan pemahaman mereka tentang emosi dan strategi penanggulangan emosi yang lemah.

Menurut Gardner ada 8 jenis kecerdasan ( multiple intellenges) , antara lain kecerdasan angka, kecerdasan kata, kecerdasan gambar(visual), kecerdasan tubuh, kecerdasan teman (sosial), kecerdasan diri , kecerdasan musik, dan kecerdasan alam. Berdasarkan teori di atas, setiap orang akan dapat belajar apapun dengan mudah, bila bahan itu disajikan sesuai dengan inteligensi yang menonjol pada orang tersebut. Misalnya, bila seseorang berinteligensi musikal tinggi; orang itu dapat belajar mudah, bila bahan disajikan dengan musik. ltulah sebabnya guru perlu mengajar dengan berbagai variasi sesuai dengan aneka inteligensinya. Sehingga peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya dengan cara yang baik, tepat, dan cepat. Jika seorang siswa memiliki kemampuan IQ-nya tinggi, tapi tindakan afektif berupa kecakapan atau kecerdasan emosionalnya (EQ) rendah, maka mungkin saja dia tidak berhasil dalam pekerjaannya yang lebih kompleks. Artinya, orang yang ber-IQ tinggi belum tentu sukses dalam menjalin hubungannya dengan teman-teman lain.

Anak yang menggunakan emosi secara efektif memungkinkan mereka untuk mengontrol reaksi naluriah dalam kondisi stres, belajar untuk berkomunikasi lebih baik keadaan emosional mereka, untuk mengembangkan hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-teman, dan untuk menjadi sukses di sekolah, pekerjaan dan kehidupan (Elias & Weisberg 2000 ; Elias et al, 1997;.. Payton et al, 2000). Ketika program sekolah dikaji, umumnya terlihat bahwa sebagian besar kemampuan mental didukung oleh kecerdasan emosional. Namun, pendidikan kecerdasan emosional bermanfaat baik buat pendidik atau pun anak-anak. Jika anak-anak mendapatkan kemampuan kecerdasan emosi, maka keberhasilan akademis akan meningkat dan interaksi sosial pun menguat. Kecerdasan emosional dapat dikembangkan oleh pendidikan yang fokus membantu anak-anak dalam mengembangkan kemampuan kecerdasan emosi dasar seperti mengungkapkan, pemahaman, dan mengelola emosi dan menggunakan keterampilan ini untuk mengatasi masalah-masalah sosial sehari-hari (Elias et al., 1997).

Gardner (1999) memasukan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal dalam teori kecerdasan. Kedua kecerdasan itu dimasukan dalam kecerdasan sosial, dan ia mendefinisikannya sebagai berikut: a. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami orang lain, empati, tanggung jawab sosial, memotivasi, dan hubungan sosial. Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkugan tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antar temannya, (e) berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f) sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) merundingkan penyelesaian masalah. b. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami, menyadari serta mengaktualisasikan diri sendiri. Inilah kapasitas untuk membentuk model diri sendiri yang akurat dan sebenamya dan mampu menggunakan model tersebut untuk dijalankan secara efektif dalam kehidupan. Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d) banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.

Jika sistem pendidikan dan perangkatnya serta lingkungan keluarga dan sosial saling bersinergi menerapkan kurikulum pendidikan nasional dengan baik dan tepat, yaitu tidak hanya meniupkan ruh IQ kepada anak/siswa tetapi juga kecerdasan emosional (EQ) , maka krisis moral dan sosial tidak terjadi pada generasi penerus bangsa Indonesia ini. Perlu adanya sosialisasi progam pendidikan yang berorientasi pada kecerdasan emosional secara berkesinambungan agar pembentukan karakter bangsa dapat berjalan efektif. Media massa juga seharusnya turut serta dalam menanamkan kecerdasan emosional dengan menyajikan tontonan yang dapat mengedukasi masyarakat , khususnya anak-anak yang rentan belajar / meniru hal-hal negatif dari tayangan yang mereka saksikan setiap hari. Menurut teori belajar sosial, ada dua cara orang mempelajari perilaku, yaitu belajar melalui konsekuensi respon dan belajar melalui peniruan.

Daftar Pustaka

Cooper, Robert, K., Sawaf, Ayman. (1997). Excecutive EQ, Emosional Intelligence in Leadership and Organizations. New York: Penguin Putnam Inc.

Doni Kusuma A.2007. Pendidikan Karakter. Jakarta:Grasindo.3-5.

Gardner, H. 1999. Intellegence Reframed: Multiple Intellegences for the 21st century. New York: Basic Books.

Davies M, Stankov L, Robert RD. 1998. Emotional Intellegence: in search of an elusive construct. Journal of Personality and Social psychology 75:989:1015.

Elias, M. J., Zins, J. E., Weissberg, R, P., Frey, K. S., Greenberg, M. T., Haynes, N. M., Kessler, R., Schwab-Stone, M. E., & Shriver, T. P. (1997). Promoting social and emotional learning, Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.

Elias, M. J., & Weissberg, R. P. (2000). Primary prevention: Educational approaches to enhance social and emotional learning. Journal of School Health, 70 (5), 186-190.

Mayer, J. D., & Salovey. M. (1997). What is emotional intelligence? In P. Salovey & D. Sluyter (Eds.), Emotional development and emotional intelligence: Educational implications (pp. 3-31). New York: Basic Books.

Payton, J. W., Wardlaw, D. M., Graczyk, P. A., Bloody, M. R., Trompsett, C. J., & Weissberg, R. P. (2000). Social and emotional learning: A framework for promoting mental health and reducing risk behavior in children and youth. Journal of School Health, 70 (5), 179-184.

Smith, M., & Walden, T. (1999). Understanding feelings and coping with emotional situations: A
comparison of maltreated and nonmaltreated preschoolers. Social Development, 8 (1), 93-116.

Stone-McCown, K., Freedman, J. M., Jensen, A., & Rideout, M. C. (1998). Self science: The emotional intelligence curriculum. San Mateo: Six Seconds.

Houtmeyers, K. A. (2000). Attachment relationship and emotional intelligence in preschoolers. Unpublished doctoral dissertation, Department of Psychology, University of Windsor, Ontario, Canada. Retrieved April 8, 2001, from Umi Proquest database

Ulutas, Ilkay., Omeroglu, Esra. 2007. THE EFFECTS OF AN EMOTIONAL INTELLIGENCE EDUCATION PROGRAM ON THE EMOTIONAL INTELLIGENCE OF CHILDREN . Social Behavior and Personality. 35(10), 1365-1372. Society for Personal Research (Inc).

Post Your Thoughts


five × 4 =