Genit Situ Bagendit

Konon pada zaman baheula ada seorang perempuan yang kaya raya, namun terkenal pula pelitnya. Bagenda Endit, itulah namanya. Nama yang mengandung arti kaya namun kikir. Tidak terhitung penduduk sekitar yang sangat miskin diusirnya ketika meminta air minum atau makanan. Suatu ketika, muncul seorang kakek yang juga berkunjung ke rumahnya untuk meminta air. Melihat kakek bertongkat tersebut, Bagenda Endit tidak suka jika rumah menterengnya diinjak olehnya. Lalu, sang Nyai Endit pun mengusirnya, bahkan merampas tongkat dan memukulkannya ke si kakek. Setelah puas melabrak kakek tua, Nyai Endit masuk ke rumahnya. Si kakek bangun dan meraih tongkatnya. Tongkat itu ditancapkannya ke tanah. Ketika tongkat itu dicabut tiba-tiba air mengalir deras dari lubang bekas tongkat tersebut. Setelah kakek itu menghilang entah kemana, air tersebut semakin besar dan menerjang rumah Nyai Endit. Bagenda Endit pun akhirnya tenggelam dengan segala harta kekayaan yang dibanggakannya. Air pun terus membesar sampai akhirnya membentuk sebuah situ (danau), yang kini disebut situ Bagendit.

Itulah salah satu versi cerita atau mitos tentang Situ Bagendit yang diceritakan turun-temurun. Legenda tersebut hampir mirip dengan legenda rawa pening di Jawa Timur dan sumber mata air di Pura Lingsar di Lombok Barat. Air yang keluar berasal dari sebuah tongkat yang dicabut. Ya, begitulah tradisi lisan yang ada di masyarakat lokal di sekitar situs budaya atau obyek wisata alam di Indonesia. Tradisi bertutur tersebut entah siapa yang menjadi sumber pertamanya. Saya sendiri mendengar legenda tersebut dari nenek ketika masih sekolah di SD. Mitos atau legenda tersebut menjadi salah satu kekayaan seni dan budaya di berbagai obyek wisata yang mencerminkan adat-istiadat atau kepercayaan setempat. Pantangan atau anjuran mengenai apa dan bagaiamana masyarakat berucap dan berprilaku juga kadang muncul di setiap lokasi.

Situ Bagendit1

Pada tanggal 8 Agustus 2011 kami mampir di Situ Bagendit yang terletak di desa Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut Jawa Barat. Kami sampai di sana sekitar 30 menit dari Situ Cangkuang. Jarak Situ Bagendit dari pusat kota Garut sekitar 13 km ke rah utara. Harga tiketnya sama dengan situ Cangkuang yaitu Rp 3000 untuk orang dewasa. Itu belum termasuk parkir mobil. Kami datang menjelang siang. Terik matahari pun menerpa kami yang sedang berpuasa. Suasana tempat parkir sangat sepi, bahkan mobil kami adalah satu-satunya yang masuk saat ini. Mungkin, sepi karena bulan puasa. Susananya pun tidak seperti sebuah obyek wisata dan kebudayaan yang terkenal dengan legendanya itu.

Situ Bagendit2

Kami memasuki areal situ Bagendit melalui pasar wisata yang terlihat sepi. Beberapa warung atau gazebo peristirahatan juga lengang. Fasilitas kereta api terlihat terpajang di “kandang”-nya. Kami melihat ada kesan pasar wisata itu tidak terawat. Semoga kami tidak salah lihat.

Situ Bagendit3

Sejumlah orang malah tampak duduk dan tidur-tiduran di warung-warung yang hanya beratapkan plastik biru. Kini kami sudah di pinggir situ. Sungguh memprihatinkan ketika permukaan situ di bagian pinggir tertutup eceng gondok. Kendaraan air pun diparkir di pinggir. Kami tidak melihat wisatawan yang memanfaatkannya. Kami sendiri tidak ada yang menawari untuk menaiki kendaraan air tersebut.

Situ Bagendit4

Ada versi lain dari legenda situs Bagendit. Setting ceritanya relative sama, termasuk kehadiran tongkat sakti yang menjadi pemicu sumber airnya. Kali ini tokohnya adalah seorang nenek yang datang ke rumah Nyai Endit. Nenek tua itu bermaksud membuktikan kepelitan, sekaligus memberi pelajaran kepada Nyai Endit. Namun, sebelum berkunjung ke rumahnya, Nenek tersebut memberitahu penduduk untuk segera mengungsi karena sebentar lagi akan datang banjir besar yang akan menenggelamkan desa. Seperti diduga, nenek pengemis itu langsung diusir oleh body guard-nya Nyai Endit, atau dikenal dengan sebutan centeng. Nenek itu tidak bergeming, malah menantang Nyai Endit untuk keluar rumah. Si nenek pun menancapkan tongkatnya ke tanah. Singkat cerita, si nenek berjanji akan pergi dan tidak akan kembali lagi jika Nyai Endit dan para centengnya bisa mencabut tongkat tersebut. Walaupun sudah berusaha dicabut oleh beberapa orang, tongkat itu tidak bergeming. Akhirnya, tongkat itu dicabut dengan mudah oleh si nenek. Selanjutnya, akhir ceritanya mirip versi pertama.

Versi mana yang benar? Entahlah, terlepas benar atau salah, legenda itu tetap dikenang sebagai tradisi lisan yang kadang diceritakan oleh orang tua kepada anaknya dulu. Sekarang tradisi bertutur seperti itu sudah jarang dilakukan oleh orang tua di zaman modern ini. Legenda tersebut sudah banyak dtulsikan kembali di dunia maya, namun dengan berbagai variasi atau bumbu cerita yang beraneka ragam. Saya merasa prihatin dengan kondisi Situ Bagendit yang- setidaknya menurut saya jika dibandingkan dengan Situ lainnya- sangat memerlukan perhatian dari pemangku kepentingan.

[Budi Hermana, Tim Ekspedisi UG]

Post Your Thoughts


two − = 1